Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),
serakah adalah merupakan kata sifat yang memiliki makna selalu hendak
memiliki lebih dari yang dimiliki; loba; tamak; rakus. Serakah adalah
sikap hidup yang patut dibuang, serakah itu salah, tidak elok, tidak
baik. Dalam kehidupan didalam masyarakat sekarang ini banyak dijumpai
sifat-sifat seperti ini, melekat erat dalam masyarakat modern Indonesia.
Banyak contohnya, misal demi mendapatkan jabatan yang lebih tinggi,
rela berbuat apapun juga, seperti menyuap ataupun menjilat, jadi demi
keserakahan akan kedudukan semua norma-norma menjadi diabaikan.
Keserakahan
dapat terjadi dalam berbagai bidang kehidupan, demi mendapatkan
keuntungan yang berlimpah, tanah kita paksa berproduksi tiada henti,
hutan kita tebang seenak hati, pabrik kita bangun tanpa memikirkan
polusi, segala cara kita halalkan demi keuntungan sendiri, semakin hari
semakin menjadi-jadi, tambah hari tambah tidak peduli, asal perut
sendiri kenyang diisi.
Serakah itu sifat yang dekat dengan
keegoisan, biasanya bermula dari sifat egois, mengutamakan diri sendiri,
mengutamakan keluarganya, dan mengutamakan golongannya saja. Kemudian
hal-hal tersebut menjalar dan bertumbuh menjadi sifat serakah, asal baik
baik dirinya, asal baik bagi keluarganya, asal baik bagi golongannya,
tidak peduli terhadap orang lain, tidak peduli terhadap golongan yang
lain.
Serakah berbeda dengan sifat yang ingin maju, serakah
tidak pernah didasari dengan rasa syukur, empati, dan berserah pada yang
kuasa. Sifat serakah atau keserakahan itu menihilkan rasa syukur,
mengabaikan empati serta tidak peduli kepada yang kuasa, yaitu Tuhan,
namun sifat yang ingin maju mendasarkan diri bahwa perubahan menjadi
lebih baik adalah kehendak yang kuasa, dan apapun yang terjadi selalu
disyukurinya juga berciri khas dengan adanya kepedulian terhadap sesama
manusia. Jadi keinginan maju tersebut selaras dengan kehendak Tuhan.
Serakah
itu merugikan diri kita serta sesama kita, bahkan merugikan alam
semesta, keserakahan menyebabkan kita memiliki hubungan yang tidak baik
dengan sesama, juga dengan alam semesta dan terutama dengan Tuhan. Bila
sudah demikian niscaya kita sudah dekat dengan kehancuran.
Mari
kita selidiki hati kita, melakukan refleksi dan instrospeksi, semoga
sifat kita yang ingin merubah kehidupan kita menjadi lebih baik selalu
selaras dengan kehendak yang kuasa, tidak menghalalkan segala cara,
tidak semena-mena, selalu berpasrah akan kehendaknya dan bersyukur
terhadap semua yang telah dan akan dirahmatkan kepada kita.
Selalu
sadar dan menjaga hati agar tidak terjangkiti sifat serakah akan
membuat kita hidup lebih baik, hidup lebih bahagia. Dengan begitu
Indonesia akan menjadi lebih baik, sebab masyarakatnya bebas dari
sifat-sifat serakah. Ya, serakah itu salah.
Akhir kata, bila saat
ini kita dipanggil kembali kepangkuan Tuhan Yang Maha Esa, apalah guna
segala yang sudah kita capai di dunia ini? Semua yang telah kita lakukan
didunia akan kita pertanggungjawabkan dihadapan-Nya. Sudah siapkah
kita?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar