Namanya Mas Murni, orang-orang pasar memanggilnya Mas
Murni, ya.. hanya itu Mas Murni, nama lengkapnya tidak ada yang tahu.
Bahkan aku tetangga dempet gubuknya pun tidak tahu siapa nama
lengkapnya, sempat terbesit di benakku untuk bertanya padanya kenapa
dipanggil Mas Murni, tapi selalu saja aku urungkan, akh.. ngapain aku
merusak pertemanan ini pikirku, aku takut kawan baikku tersinggung,
bahkan saat bersama-sama mabuk arak jowo pun, aku tidak berani mengusik
hal itu. Sedikit kisah yang aku kumpulkan dari orang yang dituakan di
pasar tempat kami berpeluh tiap hari sedikit membuka tabir mengapa
kawanku itu dipanggil Mas Murni. Mbah Bejo berkisah bahwa Mas Murni
datang saat pasar Sambi Roto ini mulai dibuka 10 tahun yang lalu. Dahulu
Mas Murni berjualan perhiasan emas katanya, akhirnya Mas Murni bangkrut
karena tertipu kawan bisnisnya. Setengah percaya aku menelan
mentah-mentah penjelasan kakek tua penghuni lapak 7A itu. Memang nama
Mas Murni mungkin ada hubungannya dengan perhiasan emas, tapi benarkah
dia dulu jurangan emas? Beragam pikiran kembali mengusik ketenangan
tidurku malam ini.
Saat pertama kali aku datang mengadu
nasib di pasar ini, Mas Murni sudah menjadi tenaga andalan bagi para
juragan pasar, pertama kali aku berkenalan dengan Mas Murni adalah saat
aku menyewa romli di belakang pasar. Kebetulan saja romli yang bersisa
adalah yang bersebelahan dengan romli sewaan Mas Murni. Romli adalah
istilah yang hanya dikenal di pasar ini. Entah siapa yang memulai, romli
adalah singkatan dari room kuli alias kamar untuk para kuli pasar.
Lumayan, dengan menyewa romli para kuli pasar yang tinggal jauh dari
desa kelahirannya seperti aku ini dapat berhemat selagi mendapatkan
tidur nyenyak yang pantas. Malam pertama di romli aku ngobrol panjang
lebar dengan kawan baruku itu, Mas Murni. Dia memperkenalkan namanya
dengan nama Mas Murni, aku sempat tersentak dan heran sewaktu dia
menyebutkan namanya, rasanya ganjil, bila namanya adalah Mas Ida mungkin
aku maklum saja dan beranggapan mungkin saja kawan baruku ini berasal
dari Bali, sempat pula aku bertanya dalam hati apa maksudnya menambahkan
Mas didepan namanya, apakah dia merasa lebih tua dariku, pikirku waktu
itu, atau memang nama yang diberikan ibu bapaknya berawalan Mas, tapi
mengapa harus Murni di belakangnya? Seperti nama seorang wanita, ataukah
dia adalah wanita yang berganti kelamin menjadi seorang pria, tapi
suara dan perawakan kawan baruku itu seperti lelaki kebanyakan, apakah
mungkin ganti kelamin dapat mengganti suara dan perawakan juga pikirku,
lalu mengapa setelah berganti kelamin dia tidak mengganti namanya dengan
nama seorang lelaki, seperti joko, suherman, sudirman, mahfud, atau
apapun, mengapa harus tetap dipanggil murni? keherananku bertambah, saat
aku bertanya dari kampung mana dia berasal, dia menjawab dengan tertawa
lebar katanya, pokoknya jauh, sangat berbeda dengan kebanyakan orang
yang kukenal, bila aku bertanya kepada orang lain mereka dengan sangat
bangga akan menyebutkan daerah asalnya bahkan sampai disebutkan pula
nama kampungnya sekaligus, tapi kawan baruku ini tidak mau kampungnya
diketahui. Entahlah... Kehangatan pribadinya membuat aku tidak
memikirkan hal-hal itu lagi. Malam itu dia berbagi rokok, kopi, dan
hongkong denganku, bahkan malam-malam selanjutnya juga, sering kali dia
berbagi denganku. Hongkong adalah istilah orang di selatan pulau ini
untuk menyebut gorengan, mungkin yang pertama kali berjualan gorengan di
sini adalah orang yang berasal dari hongkong.
Mas Murni
memang bukan orang yang sempurna tapi di pasar ini dia dikenal sebagai
kuli yang penurut, bertenaga besar dan sangat jujur. Tidak pernah aku
dengar Mas Murni bersitegang dengan juragan-juragan pasar yang
menyewanya, semua yang diperintahkan oleh para juragan selalu
dikerjakannya dengan sangat bersemangat, bahkan mungkin bila
diperintahkan masuk sumur pun Mas Murni akan menurut juga! Untuk urusan
tenaga, bila aku yang cukup berotot ini dapat memanggul 2 karung
sekaligus, maka Mas Murni sanggup melahap 3 karung sekali jalan.
Benar-benar edan kekuatan Mas Murni. Hebatnya lagi Mas Murni sanggup
bekerja di atas rata-rata jam kerja para kuli pasar. Sering kali bila
ada bongkaran barang di malam hari, Mas Murni siap dipanggil untuk
mengerjakannya. Sampai sekarang aku sendiri tidak tahu dari mana Mas
Murni mendapatkan tenaga dan stamina sebesar itu, apakah karena namanya?
Banyak orang-orang pasar yang percaya, nama Mas Murni membuat dia
bertenaga seperti itu. Heem.. boleh percaya boleh tidak, tapi faktanya
memang seperti itu, bukankah emas yang murni itu tidak lebur oleh api,
tidak lekang oleh karat, tidak hancur oleh palu begitu kata orang-orang
pasar. Soal kejujurannya tidak perlu diragukan lagi, pernah suatu kali
Mas Murni menemukan dompet tercecer di pasar. Oleh Mas Murni dompet itu,
yang sepertinya adalah dompet untuk wanita, diserahkan ke kantor
petugas pasar. Saat itu banyak dari kami, para kuli kawan Mas Murni
berkata supaya rejeki itu dipakai untuk pesta arak saja, lagipula tidak
ada kartu identitas di dompet itu, hanya ada foto seorang anak perempuan
kecil, mungkin sebaya anakku di kampung, aku taksir berusia kurang
lebih lima tahunan. Sempat pula kami menghitung uang di dompet itu,
lebih besar dari yang kami terima sebagai upah menjual tenaga selama
satu bulan, jumlahnya pas, tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Itulah
Mas Murni, meski di didesak kami semua, kawanku itu tetap pada
pendiriannya, diserahkannya dompet itu pada petugas berseragam biru
berkumis tipis, harapannya petugas tersebut dapat membantu mengembalikan
dompet itu kepada pemiliknya. Sehari setelah kejadian itu aku melihat
petugas berseragam biru berkumis tipis itu menenteng ponsel keluaran
terbaru yang dipamerkannya dengan bangga pada temannya sesama petugas
pasar. Mungkinkah dia memakai uang di dompet itu ataukah hanya kebetulan
saja? Hanya Tuhan yang tahu.
Malam itu seperti
malam-malam sebelumnya, tidak ada yang istimewa, seperti biasa aku
bersantai di depan romliku, tiba-tiba terdengar keributan di utara pasar
yang letaknya tidak jauh dari deretan romli-romli. Aku bergegas menuju
sumber keributan bersama kawan-kawan yang juga sedari tadi bersantai di
romli masing-masing. Sesosok tubuh tidak bergerak tergolek bersimbah
darah di samping truk pengangkut beras. Ya Tuhan, ternyata itu adalah
Mas Murni. Kami berinisiatif untuk segera membawa Mas Murni ke Rumah
Sakit terdekat, aku bopong tubuh Mas Murni yang terkulai lemas itu,
sungguh aku tidak pernah sampai berpikir Mas Murni akan seperti ini,
segera kami menghentikan sebuah mobil pick up yang kebetulan melintas
dan setengah berteriak aku berkata kepada sopirnya untuk membawa kami ke
Rumah Sakit terdekat, selama perjalanan aku terus menerus berbisik
kepada Mas Murni supaya tetap kuat. Akh, ternyata Tuhan berkehendak
lain, malam itu Mas Murni meninggal dunia. Paginya dengan cepat berita
menyebar ke seantero pasar Sambi Roto, berita bahwa Mas Murni meninggal
dunia. Pasar Sambi Roto mendadak menjadi lenggang. Saat matahari hampir
menyentuh batok kepala, seluruh warga pasar Sambi Roto
berbondong-bondong mengantarkan jenazah Mas Murni, seorang kuli pasar ke
liang lahat. Tidak ada keluarga Mas Murni yang hadir, hanya kami, warga
pasar Sambi Roto. Diatas nizannya dipahat tulisan yang baru di ukir
pagi ini, Mas Murni, Pahlawan Pasar Sambi Roto. Tidak ada yang tahu
asal-usulnya, tidak ada yang tahu nama lengkapnya, tidak ada yang tahu
apa-apa tentangnya. Mungkin dia hanya ingin dikenal seperti emas yang
murni. Menurut berita yang diceritakan kepadaku, kematian Mas Murni
karena kenekatannya melawan perampok bersenjata yang hendak merampok
juragan beras Tanto. Entah dari mana para perampok itu tahu bahwa
juragan Tanto sedang membawa uang ratusan juta. Dengan gagah berani Mas
Murni melindungi juragan Tanto dari para perampok dengan mengorbankan
nyawanya, pada saat itu tidak ada yang berani membantu Mas Murni, andai
saja aku ikut malam itu mungkin akan lain ceritanya gumam ku. Aku
kehilangan kawan baikku, kami kehilangan kawan kami, pasar ini
kehilangan kuli yang berdedikasi. Selamat jalan Mas Murni. Aku akan
tetap mengenangmu, kami akan tetap mengenangmu, pasar ini akan tetap
mengenangmu. Namanya Mas Murni, orang-orang pasar memanggilnya Mas
Murni, ya.. hanya itu Mas Murni, nama lengkapnya tidak ada yang tahu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar